Pagi itu pukul 06:11. Udara menusuk dingin. Sisa air hujan tadi malam masih terlihat pada ujung-ujung genting. Tak ada sinar lembut mentari pagi. Sepertinya bola besar itu masih menggeliat dalam selimut dinginnya. Suhu hanya sekitar enam belas atau tujuh belas derajat saja. Gadis itu cekatan memasukan beberapa buku ke dalam ranselnya. Dua buku tebal yang hendak dibawa dibiarkannya di luar ransel . Setelah semua buku selesai disiapkan, gadis itu mematut-matutkan dirinya di hadapan cermin. Membetulkan letak jilbabnya. Terakhir, ia meraih jaket silver yang tergantung pada sandaran kursi lalu memakainya dengan cepat. Ia kembali bercermin. Rapi. Sedikit tergesa ia mengenakan ransel dan membawa dua buku tebal tadi lalu bergegas keluar kamar. Baru beberapa langkah ia kembali lagi. Benda pentingnya pagi ini tertinggal. Cekatan tangannya meraih novel. Ia menyatukan novel itu dengan dua buku tebal tadi.

Gadis itu menuruni anak tangga dengan tergesa. Sesekali melihat arloji yang terpasang pada lengan kirinya. Ia berlari menuju dapur dan mendapati ibunya tengah berkutik dengan 'alat tempur'nya. Dia selalu begitu menyebut peralatan dapur. Ia melirik meja makan saat melintas, satu gelas susu selalu saja menggodanya. Ia memutuskan untuk menarik salah satu kursi pada meja itu lalu tanpa basa-basi ia meneguk susu itu hingga habis.

" Eh itu susu untuk adikmu." Ibu mencoba mengingatkan. Tapi terlambat susu itu telah dulu habis diteguknya. Dia hanya tersenyum tanpa dosa saat mendengar helaan kasar ibunya.

"Rara gak akan sempat sarapan Bu jadi Sasa bisa bikin lagi." Kata gadis itu. Sekarang ia telah bergegas menyalami ibunya lalu pamit dengan terburu.

"Anak itu padahal usianya sudah dua puluh satu, sikapnya masih sama dengan bocah umur tujuh tahun." Ibunya sedikit menggerut.
Gadis itu menoleh.

"Aku mendengarnya Bu. Aku benar-benar sudah dewasa terlepas dari selalu minum jatah susu Sasa. Aku juga tetap butuh asupan gizi." Katanya sambil tersenyum manja. Dia memang sedikit manja pada ibunya. Ibunya juga hanya tersenyum. Dia memang selalu bisa membuat wanita paruh baya itu tersenyum.

Dia bergegas keluar setelah mengucapkan salam. Berlari kecil menuju halte dekat rumahnya. Jarak halte itu hanya sekitar dua ratus meter dari rumahnya. Saat ia keluar dari gerbang rumah, saat itu ia melihat bus pertama telah ada di halte siap memasukan penumpang terakhirnya. Dia mencoba berlari mengejar. Namun percuma saja bus itu telah bergerak bahkan sebelum gadis itu tiba di halte.

Dia menghembuskan napas kasar saat tiba di halte. Menatap arlojinya. Pukul 06:18. Ah hanya terlambat tiga menit, bahkan ia tidak dapat naik bus pertama. Dia memutuskan untuk duduk menunggu. Dua belas menit lagi bus kedua baru tiba. Dia pergunakan waktu menunggu untuk membaca novel yang ia bawa tadi.

Novel itu baru saja ia beli kemarin. Cukup dengan membaca judulnya, hatinya langsung tertawan. Menarik. Atau mungkin ia punya alasan lain. Malam tadi ia mulai membacanya. Sekitar seratus halaman dirampungkannya. Ada yang menggelitik emosinya saat membaca novel itu. Alurnya membuat perasaan gadis itu terombang-ambing. Ini lebih dari sekadar cukup mengobrak-abrik memorinya.

Tepat dua belas menit setelah gadis itu duduk di halte, bus kedua datang. Pintu depan dan belakang bus terbuka. Beberapa orang turun dari pintu belakang, beberapa lain masuk dari pintu depan. Gadis itu melirik ke arah pintu masuk bus, sejak kapan orang-orang itu ada di halte? Pikirnya bingung. Dia tersenyum pada dirinya sendiri. Seserius itukah saat ia membaca novel? Bahkan beberapa saat yang lalu ia tersenyum, mengerutkan dahi, menghela napas berat, meremas novel, memejamkan mata tanpa ia sadari.

Kini ia telah berada di dalam bus. Setelah menekan tempat tujuan dan membayar menggunakan kartu khusus ia memilih tempat duduk. Lalu kembali tenggelam dengan alur fiksinya. Waktu tiga puluh menit tak terasa. Tepat pukul 07:00 bus itu merapat pada halte di sebelah Universitas. Dua pintu terbuka otomatis. Ia beranjak ke pintu belakang bus lalu menuruninya dengan beberapa mahasiswa lain.

Ia melirik arlojinya lalu sedikit berlari memasuki gerbang setinggi tiga meter. Ia mengambil jalan ke arah kiri lalu memasuki koridor. Masih pagi memang tapi koridor itu sudah ramai. Gadis itu terus mempercepat langkahnya lalu kembali mengambil jalan kiri hingga tiba di ujung koridor, tepat di depan pintu bertulis “PERPUSTAKAAN”. Ruangan itu sepertinya baru saja dibuka. Di dalamnya belum terlalu banyak orang.

Gadis itu menghampiri petugas perpustakaan. Petugas itu langsung mengenalinya.

“wow saya gak percaya kamu datang sepagi ini, Ra.” Petugas itu menyapa.

“Buru-buru Mas, di mana bukunya?” tanya gadis itu tanpa basa-basi.

Petugas itu memberikan dua buku dengan tebal serupa dua buku yang dibawannya dari rumah. Lebih tebal bahkan.

“Oh oh oh, mahasiswi hukum tidak boleh terlalu sering membaca novel seperti ini.” Kata petugas itu saat melihat novel yang dibawa gadis bernama Rara itu lalu mengambilnya.

“Eh?” gadis itu hendak protes.

“Saya sita dulu, kamu gak akan bisa konsentrasi deket novel ini. Kamu bisa mengambilnya kembali.” Petugas itu mengambil novelnya tanpa ampun. Gadis itu mendengus sebal.

Gadis itu mengambil posisi dekat jendela. Meletakan ransel dan buku-bukunya di atas meja. Lalu mulai berkonsentrasi mengerjakan lima soal dengan kira-kira jawaban satu lembar kertas persoal. Ini bukan soal yang menyenangkan. Sesuatu berbabau hukum bukanlah hal yang ia sukai. Sama sekali bukan.

Hampir dua jam ia mengerjakan lima soal itu, akhirnya rampung juga. Jawabannya benar-benar satu lembar kertas persoal. Ia menghela napas berat sambil menyandarkan punggungnya pada sandarn kursi. Menggerak-gerakkan tangannya yang terasa pegal. Kenapa harus tulis tangan? Hatinya mengeluh. Pandangannya terarah ke luar jendela. Pagi ini gerimis turun lagi. Ia menatap arloji. Lima belas menit lagi kelas pertanya masuk. Ia kembali menghela napas berat lalu segera membereskan buku-buku tebal itu. Sedikit kesulitan ia membawanya ke meja petugas tadi. Ia menyerahkan empat buku tebal. Ternyata dua buku tebal yang ia bawa adalah milik perpustakaan. Bahkan mungkin dia sama sekali tak punya buku yang sesuai dengan jurusannya. Terakhir ia kembali mengambil novel yang tadi dirampas oleh sang petugas.

Ia masuk kelas dua menit sebelum kelas dimulai. Ia mengambil Novel itu kembali dibukanya.

Mata kuliah hampir selesai. Tapi tak ada satupun dari perkataan dosen berhasil dicerna gadis itu. gadis itu sibuk mengatur emosinya yang naik turun. Sesekali ia mengepalkan tangan, meremas ujung jilbabnya, menggigit bibir bawahnya, dan sesekali ia mengangkat kepala menahan butiran itu jatuh dari pertahanan kelopak matanya. Pintar sekali gadis itu. Dia memposisikan dirinya hingga tak ada mahasiswa yang memerhatikan dan dosen menganggapnya mengikuti pelajaran dengan serius.

Pukul 10:30 mata kuliah usai. Gadis itu bahkan tidak menyadari saat dosen dan mahasisiwa lain meninggalkan ruangan itu. Gadis itu ikut beranjak. Hanya soal waktu kelas itu akan penuh kembali oleh mahasiswa kelas lain.

Gerimis tadi pagi telah reda. Matahari mulai berani menampakkan teriknya walau sedikit malu-malu. Tapi suhu udara tetap dingin. Mungkin hanya naik dua derajat dari suhu pagi tadi. Gadis itu kini ada di taman universitas - mahasiswa sering menyebutnya begitu -. Ia memilih bangku yang sudah kering. Tidak kering sepenuhnya, karena beberapa bagian dari bangku itu masih menyisakan sisa gerimis pagi tadi.

Gadis itu duduk dan meletakan barang-barangnya serta jaket silver yang telah dibukanya saat di kelas lalu melanjutkan membaca novel.

Novel dengan gradasi warna cover biru putih itu menyita perhatiannya dua hari terakhir ini. Dia kira hanya akan jatuh cinta pada judulnya tapi ia benar-benar menyukai setiap detail kata dari novel itu. Cerita tentang gadis seusianya yang hendak menghapus ingatan menyakitkan mebuat emosinya turun naik mengikuti alur cerita tokoh itu. Semula ia pikir ini hanya cerita biasa, atau mungkin memang cerita biasa. Tapi, lama-kelamaan alur ceritanya membuatnya terperangkap rasa ingin tahu untuk cerita selanjutnya dan selanjutnya.

Kini ia hampir berada di ujung kisah. Sekitar lima puluh atau enam puluh halaman lagi selesai dirampungkan. Ini bagian klimaknya. Bahkan ia sampai lemas mengikuti lika-liku tokoh utamanya. Seolah-olah dialah tokoh itu. Beberapa kali ia ingi memutuskan untuk tak melanjutkan kisah itu, tapi percuma saja ia telah terlanjur terperangkap.

Sekarang tangannya mengepal menahan emosi. Hanya tinggal dua lembar terakhir dari buku itu. Kata demi kata ia baca dengan teliti. Kini ia ada pada kata terakhir dari novel itu. Tangannya tetap terkepal. Buku itu ia tutup. Ia mendongakkan kepalanya menahan butir-butir di balik kelopak matanya agar tak menetes. Percuma saja ia sudah tak tahan. Kini ia menunduk membiarkan butiran itu menetes dengan bebas hingga suara itu mengejutkannya.

“Raraaaaaa.” Suara berat yang amat di kenalnya terdengar dari samping kanannya berteriak. Gadis itu buru-buru menghapus air matanya.

Dari arah kanan terlihat laki-laki dengan kaos hitam menghampirinya dengan langkah cepat. Laki-laki tiba di depan sang gadis setelah ia berhasil menormalkan kembali mimik muka serta emosinya.

“Ya ampun Ra, kenapa kamu gak jawab telepon aku?” Kata laki-laki itu tampak kesal.

“Telepon?” Gadis itu terlihat bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Euuumm__” katanya terhenti.
“Ketinggalan?” laki-laki itu cepat menebak. Gadis itu mennjawabnya dengan cengiran tanpa dosa. Laki-laki itu menghela napas berat sambil menepuk jidat.

“Kenapa emang?” Tanya gadis itu. Laki-laki itu tak langsung menjawab tapi ia duduk di samping barang-barag gadis itu terlebih dahulu.

“Kamu tahu? Gara-gara kamu gak bawa handphone, aku harus keliling gedung hukum, naik turun tangga, ke kantin, tanya-tanya temen-temen kamu. Apa kamu juga tau? Aku hapir tiga kali keliling taman ini nyari kamu.” Laki-laki itu sepertinya sangat kesal.

“Tapi aku gak liat kamu keliling taman ini.” Ucap gadis itu polos dan itu membuat laki-laki di sampingnya semakin kesal.

“Ini pasti karena benda itu!” kata laki-laki itu menghakimi dengan menunjuk novel di pangkuan gadis itu. Gadis itu tetap dengan cengiran tak berdosanya.

“Ada apa emang?” Gadis itu bertanya. Laki-laki itu mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia mengatur
emosinya. Gadis itu tersenyum. Ini senyum tulusnya yang pertama setelah membaca novel itu.

“Aku lapar.”jawab laki-laki itu.

“What? Lapar? Cuman lapar? Ya ampun Han, kamu sehat?” Gadis itu menatap tak percaya.

Laki-laki itu tidak langsung menjawab, dia mengambil sesuatu dalam ranselnya. Ia melihat kanan kiri sebelum mengeluarkan benda itu. Setelah memastikan tak ada yang melihat, laki-laki itu mengeluarkan kantong berwarna pink dengan gambar Hello Kitty dan pita pink sebagai tali penutupnya lalu buru-buru memberikannya kepada gadis itu. gadis itu sepertinya mulai paham. Gadis itu tertawa.

“Tante Mira ngasih bekal kamu lagi?” Tanya gadis itu disela tawanya.

“Ibu selalu maksa Ra, aku gak bisa nolak.” Laki-laki itu mengeluh.

“Anak baik.” Ledek gadis itu sambil tertawa.

“Ayo Ra buka aku lapar! Kamu juga pasti suka.” Laki-laki itu mendesak. Gadis itu tersenyum jahil. Tak tega melihat tampang laki-laki di hadapannya, gadis itu membuka isi kantong. Terlihat tempat makan berbentuk Hello Kitty dengan warna selaras seperti kantong itu. Gadis itu membuka tutupnya. Ada lima potong risoles di dalamnya. Gadis itu tahu persis apa isi risoles itu. Itu benar-benar menggiurkan.

Laki-laki itu telah mengambil satu risoles dan langsung melahapnya. Dia benar-benar lapar. Gadis itu hanya diam menatap rumpat basah di bawahnya. Pikirannya terbagi dua. Vellichor. Itu kata yang tepat melukiskan perasaannya saat ini. Ternyata emosinya belum pulih.

“Gak usah malu-malu Ra, Ibu juga bilang aku harus membaginya denganmu. Jadi satu atau dua potong risoles ini milikmu.” Ucap laki-laki itu. gadis itu hanya menoleh lalu tersenyum. “Satu gelas susu Sasa pagi tadi membuktikan kamu gak puasa. Jadi gak usah nahan lapar gitu.” Laki-laki itu berkata lagi. Gadis itu kini menatapnya.

“Kamu berangkat pagi sekali Ra. Tadi aku berniat menitipkan kotak itu dari rumah supaya aku gak bawa sendiri ke kampus. Itu memalukan.” Kata laki-laki itu seolah mengerti tatapan gadis itu. Gadis itu tertawa kecil lalu mengambil isi kotak itu dan memakannya. Rasanya memang selalu sedap.

“Aku sudah memutuskannya Ra.” laki-laki itu membuka percakapan baru.

“Memutuskan apa?”Gadis itu bingung.

“Aku akan menjadi Vloger Ra.” Jawab laki-laki itu santai. Gadis itu menatap tak percaya lalu tertawa. “Tenang saja kau akan sering tampil dalam videoku sebagai politisi terkemuka.” Katanya lagi.

“Aku gak pernah mau jadi politisi Han.” Kata gadis itu sebal. Kini laki-laki itu yang tertawa.

Gadis itu sesaat melupakan tentang cerita tokoh utama pada novel. Ia sedang tenggelam dalam percakapan ringan dan rasa lezat dari risoles yang tengah disantapnya. Sesekali dia terihat bersemangat bercerita. Sesekali laki-laki itu. Percakapan terus berlanjut hingga ponsel laki-laki itu berdering.

“Alrm jam masuk kelas.” Laki-laki itu mengeluh. “Aduuuh bahkan risoles itu masih tersisa satu Ra.” Laki-laki itu terus mengeluh. Gadis itu menyodorkan wadah yang berisi sepotong risoles. Laki-laki itu tersenyum.

“Melihat mukamu, sepertinya kamu lebih membutuhkan.” Jawabnya santai sambil mengemasi isi ranselnya.

“Wah parah.” Gadis itu siap memasang wajah garang. Tapi sebelum itu terjadi laki-laki itu telah dulu berlari menjauh lalu kembali menoleh dengan wajah meledek. Gadis itu memasang wajah sebal. Laki-laki itu tertawa.

“Jangan lupa tempat makan dan kantong Hello Kitty itu. itu benda pusaka Ibu.” Kata laki-laki itu berteriak lalu berlari pergi.
Gadis itu menghela napas panjang lalu mengeraskan rahangnya. Ternyata sekalipun ia mencoba mengalihkan dengan men
gobrol tetap saja ia tida bisa melupakan cerita tokoh utama dalam novel yang dibacanya tadi. Gadis itu masih berdiri dengan menatap arah yang sama. Sesuatu dalam cerita itu menggelitik naruninya.

“Permisi!” Suara berat -yang kali ini tak dikenalnya- menyadarkan ia dari lamunannya.

Gadis itu menoleh lalu tersentak mundur beberapa langkah. Matanya membulat terkejut. Ia menahan napas, gugup. Ia menelan ludah. Laki-laki di hadapannya tersenyum itu membuatnya lebih salah tingkah.

“Ya, ada apa?” Itu kata yang berhasil keluar dari mulut itu.

“Euum, sepertinya novel kita tertukar.” Kata laki-laki itu hati-hati. Gadis itu masih mencerna kata-katanya.

“Eh? Novel?” gadis itu segera meraih novel di bangku itu lalu megecek halaman pertamanya. Wajahnya langsung pucat. Tak ada sesuatu yang ia tuliskan di halaman itu. Pasti petugas itu salah memberikan buku.

Aaaarrgghh. Kenapa aku baru sadar?
“Euumm. Maaf tapi ini sudah sedikit lecek.” Gadis itu berkata ragu. Beberapa kali ia meremas novel itu saat membacanya.

“Novel itu pasti menguras emosimu.” Laki-laki itu menebak. Gadis itu diam. “Tak apa tapi ini punyamu, di depannya juga ada tulisanmu.” Lanjut laki-laki itu sambil menyodorkan novel itu. Gadis itu ragu menyerahkan novel yang dipegangnya.
Laki-laki itu menerimanya sambil tersenyum.

“Terima kasih.” Ucap tulus laki-laki itu.

“Maaf.” Gadis itu menjawab.

“Bukan salahmu.” Laki-laki itu bicara sungguh ramah. “Permisi. Assalamu’alaikum.” Laki-laki itu juga sopan.

“Wa’alaikumussalam.” Jawab gadis itu lirih. Sejenak ia berpikir dari mana laki-laki itu tahu jika pemilik buku ini adalah dia orangnya. Laki-laki itu bisa menyangka beberapa kemungkinan, tapi dia bisa langsung tepat mengenali pemilik buku itu. Apa petugas perpustakaan itu yang memeberi tahu? Laki-laki itu juga seperti tak memiliki kesulitan mencarinya gadis itu.

Baru beberapa langkah laki-laki itu melangkah, dia menoleh membuat gadis itu terkejut untuk kesekian kalinya.

“Aini Zahira.” Gadis itu lebih terkejut. Laki-laki itu bahkan tau namanya “Pastikan kau bukan malam yang selalu menunggu hari esok. Kamu adalah kamu dengan segala ceritamu.” Kata laki-laki itu.

Dahi gadis itu mengkerut. Tapi detik berikutnya, dia seperti menyadari sesuatu. Cepat sekali gadis itu berpikir. Gadis itu berkata tepat saat laki-laki itu membalikan tubuhnya kembali.

“Aku bukan malam yang selalu menanti hari esok.” Kata gadis itu membuat langkah laki-laki itu tersenggal. “Aku malam dengan segala ceritanya. Aku malam dengan segala yang memeluknya. Jika pun tiada hari esok aku tetap akan menjadi malam, tak ada yang berubah. Saat aku menyukai ceritanya bukan berarti jalan ceritaku harus serupa bukan? Sedikitpun aku tak mengharapkannya. Atau mungkin itu memang ukan harapanku. Aku hanya sedikit terusik dengan ceritanya. Tak lebih.” Gadis itu berkata seolah laki-laki itu tahu banyak tentang dia.

Setelah menyelesaikan kalimatnya, gadis itu beranjak mengemasi barang-barangnya, laki-laki itu melanjutkan langkahnya. Andai saja gadis itu, laki-laki itu tersenyum penuh arti saat dia menyelesaikan kalimatnya. Dan andai saja laki-laki itu tahu, gadis itu menatap punggungnya yang menjauh dengan tersenyum pula.








  • Artikel (cerpen)dari kategori yang sama
    Wanita di Ujung Senja
    Wanita di Ujung Senja(2017-10-30 00:36)

    Ice Cream Cinta
    Ice Cream Cinta(2017-10-18 16:36)

    ALMANAK USANG
    ALMANAK USANG(2017-10-17 20:37)